Is this good to be ambitious???
31 Jan 2010 Leave a Comment
in my contemplation Tags: ambisius, kacamata kuda, semangat
Akhir akhir ini aku cukup tergelitik dengan hal ini. Beberapa orang di sekitar / orang-orang yang aku kenal, adalah orang-orang yang ambisius (setidaknya ini yang aku rasakan). Pun penyebabnya macam-macam. Ambisius untuk mengejar kedudukan, mengejar prestise, mengejar prestasi, dan lain sebagainya. Well, aku akui..ada sisi yang aku kagumi dari orang-orang macam itu. Semangat juang, usaha, dan kerja keras yang mereka kerahkan untuk bisa mencapai ambisi mereka, memang patut dihargai.
hanya saja, yang lebih banyak kulihat dan kurasakan, orang-orang macam itu jadi cenderung egosentris. Orang-orang yang jadi hanya berfokus pada dirinya sendiri saja, hanya ambisinya saja. Dan entah kenapa-kalau boleh saya analogikan-, mereka itu spt orang2 yang memakai kacamatakuda. (Tau kan kacamata kuda gmana?? yg biasa dipake ke kuda yg bikin kuda biar ga meleng liat sana sini tp lurus liat jalan di depan). Lurus, ga ngliat sekitar. Dan seringnya mereka jadi cenderung kurang peka atau kurang berempati thdp orang-orang/perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya.(syukur setidaknya org2 yg kukenal ga sampai menghalalkan segala cara utk mencapai tujuannya, Insya Allah)
Dari sudut pandang diriku yg agak2 plegmatis ini,kadang berada di antara orang-orang yang ambisius terasa agak menyesakkan hati,(ekstrimnya: ngrasa agak terintimidasi) entah kenapa. Tapi sebelumnya dibedakan ya, antara orang-orangyg bersemangat tinggi sama orang yang ambisius!! Itu 2 hal yang berbeda. Jadi bukan berarti kalau aku berada di antara orang-orang yg bersemangat tinggi, aku jadi ngrasa terintimidasi, bukan begitu! Beda.. Orang2 yang bersemangat dg “tulus” (waduh, bingung pilih kata yg tepat utk jelasin yg aku maksud,,,jd biar aku tulis bgitu aja) scara otomatis bisa mempengaruhi mood dan jiwaku untuk turut bersemangat. Tapi dengan orang-orang ambisius, ga tahu kenapa, justru terkadang buat diriku terasa kayak terintimidasi, gerah, dan rasanya ingin menghindar.
Tiba tiba jadi kepikiran juga ni, sebenernya siapa yang ‘error’ di sini ya..?Orang orang ambisius atau emang justru diriku sendiri ini yang merasakan ketidaknyamanan diantara orang-orang ambisius??
Haha..it’s just my random contemplation..
Hold on..
24 Sep 2009 Leave a Comment
in just what my heart say Tags: hati, karma, kejujuran
jujur,,ini bukan perasaan yang mudah..
Tak mudah untuk terus bertahan pada perasaan dikala dia tak menoleh pada kita..
tak mudah untuk terus setia dikala dia pun tak pernah peduli atas apapun pada diri kita..
Hati yang berkali2 terasa kelu dan letih atas sesuatu yang tak pasti, namun tak jua dapat untuk segera berpaling
meskipun terasa sakit yang berulang ulang, namun tak jua berhenti mencemaskan keadaan dan bertanya2 ttg kabarnya
ah~mungkin ini karma..
aku tak pernah membayangkan pada akhirnya aku juga merasakan perasaan semacam ini
ahaha~bodohnya…
mungkin ini terlambat, tapi biarlah..
pada saatnya angin kan menunjukkan arahnya jua,
dan gelombang kan tau dimana perahu harus melabuhkan jangkarnya..
dan untuk saat ini aku kan tetap mencoba bertahan
Yang terlintas
22 Sep 2009 Leave a Comment
in just what my heart say Tags: konsisten, rindu
Cukup sering aku merasakan perasaan2 macam begini..
Perasaan rindu yang mendalam, yang lantas dapat berubah menjadi perasaan kesal dan keki, dan kemudian menjadi suatu perasaan hampa yang begitu menyesakkan..
Apakah mungkin, selama ini perasaanku salah? Apakah ini sebentuk ketidakpastian, ketidakkonsistenan hati??
Jikapun begitu mengapa diriku harus selalu merasakan perasaan semacam ini?? Sampai kapan aku harus bertahan pada perasaan yang terombang ambingkan tak jelas ini??
kapankah aku mendapat kepastian, menemukan tempat labuh yang mana ku tak perlu merasakan ketidakjelasan maupun ketidakpastian??
Aku sadara sepenuhnya bahwa tidak ada yang namanya jaminan kenyamanan ataupun kepastian. Hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Namun apakah wajar jika aku harus selalu merasakannya??Bisakah cukup untuk hati ini beristirahat sejenak saja dan merasakan kenyamanan??
SEMESTER INI SEMESTER PRAKTIKUM
08 Sep 2009 Leave a Comment
in my activities Tags: kuliah, pengembangan produk, praltikum
Ouch…memasuki semester 5 di teknik Industri dan ini semesternya praktikum!! Hwoww………!!! Sewaktu masih di semester 1&3 dulu cuma ndengerin aja keluh kesah n cerita2 dari kakak angkatan betapa berat dan melelahkannya praktikum. Masih inget, waktu masih di semester 3 dan dapat banyak banget tugas2 dari dosen yg sampai bikin lembur2. Kakak angkatan yg ndengerin keluhan kita waktu itu cuma nanggapin ”Hallah…kalian itu belum apa2 dibanding kalo udah masuk semester 5. Yang kalian lakuin sekarang paling2 cuma sepertigapuluh dari praktikum nanti” HOOEEEEE????@#$%!!%@$)()^!&*^~!?>”;%
Dan hari minggu lalu dimulailah briefing Praktikum. Ada 5 praktikum yang harus dijalani. Ergonomi, Simulasi, Sistem Produksi, Desain Produk n Perancangan Pengembangan Produk sebagai praktikum integrasi dari semua jenis praktikum. GOSH…!!!
Dua minggu sebelum lebaran, praktikum yang dimulai bari Sistem Produksi & Desain Produk, sementara asisten praktikum yang lain memutuskan untuk mulai praktikum after liburan lebaran, yeeiiiyy….
Praktikum pertama untuk Sistem Produksi tentang Toyota Production System.. Well, masih belum krasa “grusa-grusu” praktikumnya walau dah mulai bikin2 laporan (mungkin karena masih awal n belum semua praktikum dijalanin kali ya) & juga sebuah keberuntungan karena dapet temen2 kelompok yang sangat rajin2 dan sangat pintar2..><.. Jadi bisa lebih termotivasi n gag males2an.
Untuk praktikum Desain Produk mengarah ke tugas perancangan kendaraan yang berbasis sepeda (no engine, no fuel, no machine). Tugas pertama menentukan visi misi perusahaan (kelompok) n juga mulai nyari needs dari market ttg sepeda. Fiu…
Pertamanya aku berusaha enjoy aja n ga nganggep berat praktikum2 yang bakal dihadepin ni, tapi ngliat anak2 lain pada heboh semua n baru awal2 udah banyak yang mulai ngeluh, jadi kepengaruh juga~bahaya ini..~Bisa mempengaruhi semangat , ketenangan, n rasa enjoy di praktikum…!!!
Yossh~tapi mulai sekarang harus saring kata2 yang aku dengar dari sekitarku!!!”malas, capek, kesel”yg didenger dari keluhan yang lain harus disaring biar ga ngaruh di otakku!! Yah, kalaupun nanti kenyataannya emang bakalan super duper sibuk, capek, menguras tenaga, pulang tengah malem naik motor sendirian, begadang, untuk ngerjain laporan, dan lain sebagainya,, ttp ga boleh luntur semangat!
Toh lagipula katanya belum anak TI kalo belum ngrasain Praktikumnya. Belum mantep keserap ilmu2 kuliah selama ini di TI kalo belum diaplikasikan di praktikumnya. Praktikum bikin kita jadi calon ”real industrial engineer”!! Jadi harus semangat, ga bole ngeluh, n selalu coba dinikmati.. Hwaw,dinda kalo kamu bisa!!!!!!!!!( doakan saya..\^o^/ )
Issho ni ganbarimasho~!!
…………
04 Aug 2009 1 Comment
When the skys begin to cloud
About the moment when the sun comes out
And you’ll know the meaning
’cause I’ll be there right by your side
And when the starlit sky begins to shine like it’s never shined before
You’ll know I miss you
Yeah, and I miss you
Couldn’t say your name
But I’m glad I met you
Was it all a dream?
But our time has passed
And we had been together
But our past may change
And we could be forever no more
Better say goodbye
Cerpen SMA (iseng^^)
01 Jul 2009 Leave a Comment
in Uncategorized Tags: cerpen SMA, cita cita, impian, polos, sahabat
Membuka folder2 lama di kompie, dan akhirnya cerpen yang kutulis waktu kelas 1 SMA untuk tugas bahasa Indonesia nya pak budi ini, saya temukan.Ceritanya aneh dan polos, bahasanya agak kacau juga, haha… Bingung maud diapain, qpikir di publish di-blog saja lah-untuk nambah2in tulisan,,^^
Yang Kuinginkan
Aku berjalan lunglai tanpa semangat. Kulihat sekelilingku. Mereka tampak sibuk membicarakan nilai mereka masing-masing. Ada yang meloncat-loncat gembira, ada yang tampak sangat kecewa, ada pula yang biasa-biasa saja, nyaris tanpa ekspresi. Seolah, masa bodoh dengan apa yang tertulis di di dalam buku rapornya itu.
Yeah, hari ini memang murid-murid di sekolahku menerima rapor. Buku raporku sendiri malah belum kulihat. Aku sudah dapat memprediksikan isinya. Jika orang melihat tampangku yang lesu, pasti mereka akan berfikir bahwa nilai raporku pasti jelek. Salah! Justru kebalikannya. Tak ada satupun yang salah dengan nilai raporku. Bagaimana tidak? Dihadapan teman-teman dan kakak-kakak kelas dalam upacara pagi tadi, diberitahukan bahwa aku adalah juara 3 paralel nilai terbaik Sudah kubayangkan tentunya, bahwa nilai raporku pasti terdapat angka 8 dan 9 yang mendominasi. Jadi, kenapa harus kubuka kalau aku sudah tahu hasilnya?
“Dee, selamat ya. Gila, keren banget lu, bisa ranking 3 paralel! Pokoknya sehabis ini traktir kita ya…”,tiba-tiba Sasa berlari menghampiriku. Enak bener nraktir lu.
Dan ternyata tidak hanya Sasa. Semua orang yang kutemui saat dalam perjalanan ku untuk beranjak dari gedung tua ini, menghampiri dan menyambutku.
“Wah Dee, ya ampun ternyata kamu…”Ternyata apa?
“Dee, ini yang kedua kalinya juara parallel ya! Kok kamu bisa sih mempertahankan gelarmu juara parallel itu. Gimana trik nya?”Ya bisa dong, masa’ gak bisa
“Dee, kok kamu pinter gak ngajak-ngajak kami sih!” Gimana caranya ngajak. Emang mau pergi?!
“Dee, kemu keren!!” Emang dari dulu keren
“Dee….pokoknya selamat!”
“Dee…!!”
“Dee…”
“Dee…!!”
Harusnya aku bangga dengan prestasiku itu. Tapi nyatanya tidak. Diselamati seperti itu malah membuat hatiku sewot sendiri. Bawel amat sih mereka ini. Aku hanya menyungging senyum tipis. Tipis sekali. Itu pun juga karena kupaksa. Kosong…semua terasa kosong bagiku. Kosong…
Di luar sekolah, tampak kijang hijau Ayah telah siap menanti. Di dalamnya ada seluruh keluargaku! Ayah, Ibu, kedua kakakku, kakak iparku, dan juga keponakanku. Wajah mereka tampak cerah. Ya ampun, kayak mau apa aja, semuanya ikut, batinku.
Kubuka pintu belakang kijang itu. Kakakku memberikan ruang untukku. Aku segera duduk dan kusodorkan rapor biruku pada Ibuku yang sudah tampak tegang menantinya.
“Wah!Alhamdulillah! Ya allah. Nilai anakku…”
“Ah, berapa Bu?”,Tanya kakak-kakakku tidak sabar.
“Nilainya tinggi sekali”, tukasnya “Rangking berapa Nak?”
Kujawab sekenanya “3 paralel”
Dan setelah itu kudengar suara mereka yang berkali-kali mengucap syukur. Entah kemudian apa yang mereka bicarakan, tidak aku perhatikan. Aku hanya menatap pemandangan di luar mobil. Aku ingin mengatakan sesuatu…
Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Aku tersadar dari lamunanku. “ Heh, ngalamun ya? Lagi mikir apaan?”,tanya kakkaku yang kedua.
“Ah nggak! Nggak ada apa-apa kok” Bohong…
Kakkaku yang pertama menyadari keresahanku dan kemudian ia mengalihkan pembicaraan “Gimana ni kalo kita makan-makan buat merayakan nilainya Dee di Pondok Pizza!”
Pizza, hmm boleh juga. Aku lapar nih. Dalam sekejap mobil tahun 98-an ini melesat ke Pondok Pizza.
Di sana aku menyantap pizza dengan lahap. Selama makan, aku tidak banyak bicara. Keluargaku justru malah masih ramai membicarakan nilaiku.
“Sekarang kamu udah naik ke kelas 3 ya. Sebentar lagi bakal kuliah. Sudah besar kamu ya, Nak!”, kata Ayahku sambil mengusap rambutku
Kakak iparku tiba-tiba menyela. “Besok mau masuk jurusan apa di universitas?”
Belum sempat kujawab, tiba-tiba Ibu sudah menjawab. “Masuk kedokterann ya nak…Biar Ayah Ibu bangga padamu. Biar kalau ada saudara yang sakit bisa ditolong. Pokoknya kedokteran ya…”
Dadaku terasa sesak. Sebenarnya aku benci mendengar kata-kata itu. Aku paling muak membicarakan hal ini. Lagi-lagi…Uh, menyebalkan!
* * *
Dua minggu telah berlalu. Liburan akhir semester pun telah usai. Saatnya kembali ke sekolah dengan ruang kelas yang baru. Kembali sekelas dengan teman-teman sewaktu di kelas satu.
“Wah Rania, Lani, aku udah kangen ni. Di kelas dua kita bertiga nggak sekelas. Senengnya bisa balik lagi”, sambutku.
“Iya nih! Wah bakalan seru nih. Oh iya, aku belum ngasih selamat ke kamu yan juara 3 kemarin”
“Iya, aku juga, selamat ya”, sambung Rania.
Uh lagi-lagi…Apa gunanya nilai bagus kalau apa yang kuinginkan susah untuk diraih. ”Ah udah nggak usah ngomongin itu. Eh kita sambut teman-teman yang lain yok”, balasku mengalihkan perhatian.
Mataku teralih sejenak ke kelas III IPA 3. Elfa udah datang belum ya…. Ada yang ingin sekali kubicarakan padanya. Tapi sepertinya ia belum datang.
Hatiku sangat senang karena dapat bertemu lagi dengan teman-taman lama dan kini bisa satu kelas. Keresahanku sejenak hilang terhapus kegembiraanku bersama mereka. Empat bulan pun berlalu dan aku hampir benar-benar melupakan keresahanku itu, sampai pada suatu saat…
“Ini ada formulir dari Pak Guru, yang harus segera kita isi. Dikumpulkan paling lambat besok Sabtu”, Bayu, sang ketua kelas, masuk dan membagi-bagikan formulir itu. Formulir? Formulir apa ya?, batinku penasaran.
“Oh…formulir pilihan jurusan to? Kukira apaan”, terdengar suara lantang Chandra di sudut kelas.
DEG! Pilihan jurusan…Perasaanku kembali berkecamuk. Keresahan lama yang hampir lenyap itu tiba-tiba datang kembali merayapi hatiku. Jurusan…jurusan…
“Kamu mau jurusan apa, Ran?”,tanyaku pelan pada Rania.
“Ya pastinya kedokteran dong”,jawabnya mantap. Yah, jawaban yang sudah kuduga. Betapa tidak? Seluruh keluarganya adalah dokter. Ia pasti juga akan mengikuti jejak keluarganya.
“Kalau aku mau masuk Biologi!”, sela Lani,
Mulai terdengar suara gaduh di kelas kami. Masing-masing anak sibuk membicarakan pilihan jurusannya kelak di universitas.
“Aku sih psikologi!”
“Aku ekonomi.”
“Aku informatika..”
“Aku…”
“Aku…”
Sedangkan aku sendiri…
* * *
Aku berniat mengutarakan pilihan jurusanku pada orangtuaku. Tapi sebelumnya aku mencoba berbasa-basi pada Ayah. Kutemui beliau yang tengah asyik membaca koran di beranda.
“Ayah…ada yang mau kutanyakan”
“Hmm, tentang apa?”
Aku masih ragu-ragu. Haruskah kuteruskan pembicaraan ini?
“Tentang pilihan jurusan di universitas. Aku…”
Belum selesai ku bicara tiba-tiba beliau berkata, “Kalau kamu, pasti bisa masuk apa saja. Ayah sih terserah kamu mau apa?”
Aku sedikit lega mendengar ucapannya. “Bukan masalah apakah aku diterima di jurusan itu atau tidak. Tapi apakah Ayah dan Ibu akan menyetujui pilihan jurusanku”
Ayah menyibakkan korannya. “Memangnya kamu mau jurusan apa?”
Aku hanya terdiam.
“Bagi Ayah, apapun boleh. Yang penting, jurusan yang bisa membekalimu dan mengantarkanmu dengan mudah untuk mencari pekerjaan. Zaman sekarang, cari kerja susah. Jangan sampai kamu seperti mereka-mereka yang berkuliah, namun akhirnya nggak dapat pekerjaan. Jurusan jangan neko-neko. Intinya, yang gampang buat cari pekerjaan!”, ujarnya panjang.
Nafasku tertahan. Sepertinya pembicaraan ini harus segera kuhentikan. Sepertinya percuma saja. Karena, aku menyadari bahwa pilihan jurusanku itu, terutama di negara kami ini, sangat sangat sulit untuk memperoleh pekerjaan. Bahkan bisa dikatakan bahwa profesi lanjutan dari jurusan itu, kurang diminati banyak orang, sehingga kesempatan kerja yang ada sangat sempit. Kecuali bila di luar negeri…
* * *
“Memangnya kamu mau masuk jurusan apa sih?”, tanya Elfa, sahabatku, yang kuceritakan mengenai dialogku dengan ayahku tempo hari.
Aku hanya diam dan tak menjawab.
“Kalau kamu sendiri mau apa?”, balikku bertanya.
Elfa tersenyum dan menjawab dengan mantap. “Sastra!”
Hmm…sastra ya. Pilihan yang tepat untuk orang seperti dia yang memang pandai bermain dengan kata-kata. Hal itu tampak jelas jika kita mencermati dialek bahasa Indonesianya yang baku.
“Eh, tapi, kalau kamu tahu, jurusan sastra itu adalah jurusan yang paling kurang diminati lo! Hanya orang-orang yang tidak oke yang mau masuk jurusan itu.”
“Uh, siapa bilang?”, kataku. “Yang paling penting adalah bagaimana besok pekerjaannya. Dengan modal sastra, kamu bisa jadi penulis terkenal”, kataku
Dibilang demikian, Elfa tersenyum malu. ”Trus, kalau kamu mau jurusan apa?”
“Ah…entahlah! Aku masih bingung … nggak tahu harus gimana?”
“Loh, kamu tu aneh ya. Menurutku, kamu itu orang yang memiliki banyak bakat dan kemampuan. Kamu punya bakat seni. Gambaranmu bagus. Kemampuan musikmu pun tidak bisa diremehkan. Ilmu sains mu juga keren. Nyatanya kamu bisa mendapat ranking 3 paralel waktu itu. Pilihan jurusan terbentang luas di hadapanmu. Kenapa masih bingung.”
Ah, Elfa, justru karena itulah yang sedari dulu membuatku resah, yang membuatku kalut sendiri terhadap diriku, terhadap prestasiku.
”Asal kamu tahu aja ya. Itulah yang membuatku merasa nggak sreg pada diriku sendiri. Aku mungkin memang mempunyai banyak potensi dan kemampuan. tapi tak ada satupun dari bakatku yang kujalani dengan sepenuh hati. Selama ini aku selalu setengah-setengah, nggak pernah tuntas”, kuhentikan ucapanku sejenak untuk mengambil udara.
“Memang aku bisa menggambar, bisa musik, bisa sains, tapi selama ini aku tak pernah sepenuh hati. Bisa dikatakan itu hanya sekedar sebagai hobi atau selingan dan aku tak ingin menjadikannya sebagai profesiku.”
Kemudian aku mengarahkan telunjukku pada sosok yang tengah main basket di Lapangan Basket, Ahmad, illustrator paling oke di sekolah ini. “Aku iri pada Ahmad, ia dikaruniaii kemampuan menggambar yang sangat keren, dan ia pun pasti bisa dengan mudah menggapai cita-citanya sebagai komikus. Itu karena ia menekuni betul kemampuan menggambarnya itu.”
Lalu jariku beralih ke arah Putra yang ahli dalam bidang desain grafis. “Seperti Putra juga! Ia pandai berkomputer. Profesi apapun sangat membutuhkan orang yang ahli di bidang komputer!!”, tak terasa aku telah meluapkan beban yang dari dulu menghimpit dadaku. “Seperti kamu juga Elfa, kamu ahli dalam membuat karya sastra. Orang sepertimu tidak sulit untuk dapat menjadi seorang penulis hebat…”
Elfa terdiam memandangiku. “Dee…Jadi itu ya yang selama ini membuatmu kalut?”
Aku mengangguk. Tangisku hampir pecah rasanya, tapi kini aku merasa lebih lega karena telah meluapkan segala bebanku.
“Lalu, sebenarnya hal apa yang paling kamu inginkan? Hal apa yang dengan sepenuh hati ingin kau tekuni atau kau abdikan seluruh jiwa ragamu?”
Aku mengeluarkan selembar kertas dari tasku. Formulir jurusan yang sebenarnya dari dulu sudah kuisi tapi belum juga kukumpulkan. Kusodorkan formulir itu ke arah Elfa.
“Itu adalah cita-citaku sedari dulu.” Ia agak terkejut saat membacanya namun kemudian ia tersenyum, “Kalau kamu pasti bisa!”
“Benarkah?”, pekikku. Tapi aku segera tersadar. “Kamu juga menyadari kan bahwa jurusan itu akan sulit untuk mencari pekerjaan terutama…di negara kita ini.”
Elfa menggeleng. “Memang sih, tapi tidak juga! Di luar negeri, yang seperti itu kesempatan kerjanya terbuka lebar. Kalau mau, kau melanjutkan sekolahmu di luar negeri saja. Di Aussie, ada banyak universitas yang bisa menunjang impianmu. Ada Murdoch University, Deakin University, dan masih banyak lagi. Pekerjaan untuk itu pun mudah ditemui disana. Tidak sulit bagi orang sepertimu untuk mendapatkan beasiswa bersekolah di negeri orang”
Ada secercah harapan di benakku. Tapi, orangtuaku, bagaimana dengan mereka? Apakah mereka akan menyetujui? Diantara kakak-kakakku aku lah yang dapat dibilang otaknya paling encer. Kedua kakakku hanya bekerja sebagai pegawai kantoran kecil. Jadi, orangtuaku menaruh seluruh harapannya di pundakku agar aku bisa menjadi orang yang memiliki suatu profesi WAH yang dapat mereka banggakan. Aku takut mengutarakan keinginanku. Takut kalu keinginanku itu akan ditolak oleh mereka. Aku belum siap untuk itu.
Seolah sadar akan keraguanku, Elfa berkata “Kamu sungguh-sungguh menginginkan pekerjaan itu?”
Aku mengangguk mantap
“Betul-betul mencintai hal itu?’
Kuanggukan lagi kepalaku.
“Tidak ingin melepaskannya begitu saja kan?”, Sekali lagi aku menganggukkan kepalaku.
“Ya sudah kalau memang demikian. Kalau kamu betul-betul menyukainya, dan benar-benar tidak ingin melupakan impianmu itu, kau harus benar-benar berusaha dengan keras untuk meyakinkan orangtuamu tentang impianmu. Itu karena kamu mencintai mimpimu itu kan? Jangan pernah menyerah! Tunjukkan pada orangtuamu bahwa kau bisa. Bahwa pilihanmu itu, adalah pilihan terbaik untukmu!!”, semangatnya.
Dan tiba-tiba saja aku tersentak. Benar! Kenapa selama ini aku tidak memikirkan hal itu. Selama ini aku memang hanya pasrah, takut mengutarakan keinginanku pada mereka dan tidak yakin pada kemampuan diriku sendiri.
“Apa aku bisa?!”, tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. Semangatku mulai berkobar-kobar.
“Hahaha, tentu saja bisa. Masa’ yang berhasil juara paralel, tidak bisa meyakinkan orangtuanya sendiri”, katanya sambil tertawa.
Aku pun tertawa. Ah, sekarang AKU BENAR-BENAR SUDAH MANTAP akan pilihanku! Dengan lebih berusaha aku pasti bisa!! Aku pun berdiri dan bersiap berlari untuk mengumpulkan formulir yang seharusnya dikumpulkan paling lambat hari ini. “Terima kasih banyak Elfa! Terima kasih. Aku benar-benar senang bisa punya sahabat sepertimu…”
Namun sebelum aku berlari, ia berkata. “Sebelumnya ingatlah akan ucapanku ini. Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan, dan kalaupun mereka tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya. Pegang teguh kata-kata itu ya!”
Aku mengangguk. Tentu saja aku tidak akan melupakan itu! Aku pasti akan mengingatnya.
* * *
Di rumah…
“Ayah, Ibu aku sudah memutuskan dengan mantap akan masa depanku. Aku ingin menjadi….”
Kulihat mereka terkejut. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku pasti bisa meyakinkan mereka.
* * *
10 tahun pun berlalu…
Aku menghirup napas dalam-dalam. Ah, segarnya hawa kebebasan… Setelah kurampungkan studiku jurusan konservasi alam di Aussie, kini aku telah menjelajah ke hampir separo penjuru dunia dalam rangka pekerjaanku ini. Namun, saat ini aku tengah berada di Afrika.
Aku jadi teringat akan usahaku 10 tahun yang lalu saat meyakinkan pada kedua orangtuaku apa yang sebenarnya paling kucita-cita kan.
“Apakah kau yakin dengan pilihanmu itu?”,tanya Ayah.
“Iya. Mantap sekali…!”
Melihat kemantapan yang sangat di wajahku mereka menjadi tak berdaya. “Sayang sekali, sebenarnya Ibu ingin melihatmu menjadi seorang dokter, bisa mengabdikan hidupmu untuk menolong manusia.”
“Ibu, pilihan yang kutempuh ini juga tak kalah mulia. Aku juga ingin melakukan sesuatu yang berarti untuk makhluk Tuhan lainnya selain manusia. Di luar sana, mungkin aku termasuk sosok yang mereka butuhkan. Yaitu sebagai sosok yang bisa menyelamatkan mereka dari perburuan, menyelamatkan kehidupan mereka yang sudah semakin sempit, menyelamatkan mereka dari kepunahan. Apakah itu juga bukan suatu hal yang tak kalah mulia? Itulah yang paling aku ingin lakukan Bu! Menjadi seorang konservator, Yaitu PENYELAMAT BINATANG. Apa aku salah bu?”
Melihat kegigihanku, Ayah kemudian menepuk pundakku. “Okay, kami mempercayaimu untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan. Tapi, tolong suatu saat, dengan impianmu itu, buktikan pada kami bahwa kau mampu hidup hanya dengan menjadi seorang konservator, bisa hidup bahagia dengan pilihanmu itu. Sehingga kami dapat mengikhlaskanmu.”
“Tentu saja!!! Tentu saja Ayah! Aku akan membuktikannya pada kalian”
Itulah janjiku pada kedua orangtuaku 10 tahun yang lalu…
Tiba-tiba teman sejawatku datang menghampiri.”Ada 2 surat dari negaramu. Ini!”, katanya sambil menyodorkan 2 buah amplop.
Kulihat nama yang tercantum di belakangnya. Satu dari orangtuaku. Mereka ingin mengetahui kabarku saat ini. Aku jadi teringat janjiku saat itu.
Dan yang satunya lagi, ah dari Elfa!! Bergegas kusobek amplopnya.
Hai Dee,
Bagaiamana keadaanmu saat ini. Kau saat ini sedang bertugas di Afrika ya? Selamat deh…Akhirnya apa yang kamu impikan akhirnya menjadi kenyataan. Sudah kuduga kalau kamu pasti bisa kan?
Aku mau menceritakan sedikit apa yang terjadi padaku dan teman-teman kita dulu. Tepat seperti dugaanmu. Ahmad, menjadi seorang komikus terkenal. Karyanya seperti menjadi suatu fenomena. Putra juga, menjadi ahli komputer yang sangat handal. Oh ya, temanmu Rania itu tengah merampungkan pendidikan kedokterannya. Dan aku sendiri… yah seperti katamu. Penulis! Tapi belum tenar seperti Ahmad ataupaun Putra. Sebentar lagi aku akan meluncurkan buku perdanaku. Semoga saja bisa sukses ya.
Aku kira sekian dulu. Pasti aku akan memberikan kabar lagi padamu.
Dadah…
Sahabatmu, Elfa
“Oh ya Dee. Ini foto-foto yang kau minta untuk dicetak. Sudah selesai”
Aku membuka amplop coklat yang berisi foto-fotoku itu. Aku tersenyum memandanginya.
“Foto itu…mau kau kirimkan ya?”, tanya temanku itu.
“Iya ! Aku akan mengirimkannya pada orangtuaku, untuk membuktikan pada mereka bahwa aku berhasil dan aku sungguh bahagia pada pekerjaanku ini.”
Tiba-tiba, “…Tapi nanti tolong cetakkan sekali lagi ya”, pintaku.
Ya, tiba-tiba saja aku jadi ingin menunjukkan foto-foto ini pada Elfa juga. Karena aku ingin membuktikan padanya bahwa kini aku juga telah berhasil menciptakan keadaan yang kuinginkan, seperti kata-katanya saat itu
Orang yang berhasil di dunia ini adalah orang yang bangkit dan mencari keadaan yang mereka inginkan, dan kalau mereka tak menemukannya, mereka akan menciptakannya.
Kupandangi foto-fotoku sejenak. Aku jadi geli sendiri saat melihat salah satu fotoku di situ. Di foto itu aku melihat diriku saat mulai terjun ke lapangan untuk pertama kali. Air mukaku yang pucat ketakutan, karena berada di tengah-tengah kerumunan singa yang sangat banyak. Kalau nanti Elfa melihat foto ini, apa yang akan dipikirkannya ya?
-
By : D.F.A ( X.1 / 5 )
Red : Cerita ini sangatlah fiksi belaka, walau ada karakter yang benar-benar nyata dengan nama disamarkan. (Gila, sepanjang SMA aku ga pernah rangkin paralel bok, hahaha)
notes :
*Untuk sahabat tersayangku ‘Elfa’ yang disana tuk menempuh cita-cita nya : Kamu ga pernah tau ya kalau aku waktu nulis ini hampir 4 tahun yang lalu, ada karaktermu disini :p, ada yang lain juga, hehe. Dulu waktu kamu smpat pengin liat hasil cerpenku, enggak aku bolehin cz minder tulisanku ini aneh, haha. Dan pada kenyataannya, aku nggak jadi kuliah di kedokteran hewan dan kamu nggak di sastra juga ya ternyata. Pemikiran yang polos 4 tahun yang lalu itu.
Ada banyak hal yangpengin kusampaikan, tapi akhirnya tidak bisa saya sampaikan saat ini. Entah nanti kamu akan tahu atau nggak, tapi saya akan selalu berterima kasih…terimakasih…dan terimakasih banyak. Berjuanglah terus, jangan gampang stress dan “dead” melulu. Mudah2an suatu saat nanti, ntah berapa tahun lagi, kita bisa bertemu lagi ya (dan kamu bisa benar2 menjadi penulis?hehe)…^^. Dan entah kamu juga kan membuka blog ini, lalu membaca cerpen dan notes ini atau nggak, satu hal : I really miss u*




